Seorang pria miskin berpakaian compang-camping datang ke istana untuk menghadiri pesta. Demi sopan santun ia diizinkan masuk namun, karena pakaiannya yang compang-camping, ia dipersilahkan duduk di ujung meja pesta. Ketika piring hidangannya sampai kepadanya, tak ada lagi makanan yang tersisa.
Oleh karena itu, ia meninggalkan pesta tersebut, beberapa jam kemudian ia kembali lagi dengan pakaian jubah dan perhiasan yang dipinjamnya dari seorang teman yang kaya. Kali ini ia langsung dipersilahkan duduk di tempat utama dan, dengan upacara besar, hidangannya disajikan pertama-tama untuknya.
"Oh, lezat sekali makanan yang disajikan dalam piring saya." Setiap kali ia menyuap, ia melumuri pakaiannya dengan makanan.
Seorang bangsawan di sebelahnya, jijik melihatnya, bertanya, " Tuan, mengapa tuan melumuri pakaian tuan yang mewah dengan makanan?"
"Oh," sang pria miskin itu menjawab sambil tertawa geli, " Maaf kalau jubah saya sekarang tampak jorok. Akan tetapi, pakaian sayalah yang membawakan segala hidangan ini untuk saya. Wajar kalau pakaian saya juga diberi makan!"
Oleh karena itu, ia meninggalkan pesta tersebut, beberapa jam kemudian ia kembali lagi dengan pakaian jubah dan perhiasan yang dipinjamnya dari seorang teman yang kaya. Kali ini ia langsung dipersilahkan duduk di tempat utama dan, dengan upacara besar, hidangannya disajikan pertama-tama untuknya.
"Oh, lezat sekali makanan yang disajikan dalam piring saya." Setiap kali ia menyuap, ia melumuri pakaiannya dengan makanan.
Seorang bangsawan di sebelahnya, jijik melihatnya, bertanya, " Tuan, mengapa tuan melumuri pakaian tuan yang mewah dengan makanan?"
"Oh," sang pria miskin itu menjawab sambil tertawa geli, " Maaf kalau jubah saya sekarang tampak jorok. Akan tetapi, pakaian sayalah yang membawakan segala hidangan ini untuk saya. Wajar kalau pakaian saya juga diberi makan!"
No comments:
Post a Comment