"Sebuah Renungan yang luar biasa, bagaimana sang Mara - si Jahat dapat memanfaatkan kelemahan kita dan mencoba mengelabui kita dan berusaha membuat kita menderita."
Bocah itu bosan dengan festival yang menurutnya kekanak-kanakan. Ia melambatkan langkah, kemudian menyadari kemunculan pria asing entah dari mana. Pria itu bertubuh jangkung dan mengenakan jubah rami kasar seperti yang sering dipakai pengelana. Meskipun pria itu tampak misterius dan bertubuh besar, Devadatta tidak takut, kesombongannya melindungi dirinya. Tangannya meraba belati di pinggang.
“Ayo” kata pria itu. ” Kau pantas mati”.
Devadatta mundur, terperangah. “Kenapa ?”. Suaranya masih terdengar tidak tahu, dan ia menghunus senjatanya juga siap bertarung.
“Bukan karena apa yang telah kaulakukan, tapi karena apa yang akan kuperintahkan kau agar kaulakukan.” Dengan kecepatan yang tak tertangkap mata, orang asing itu menyerbu maju, memegang mata belati Devadatta dan menariknya dari genggaman bocah itu. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Devadatta yang terkejut. Orang asing itu menggenggam mata belati erat-erat, namun tak ada setetes darah pun yang muncul.
“Sialan kau, Setan!”
Mara membungkuk sinis karena ia begitu cepat dikenali. Tidak banyak yang cukup berani untuk menyumpahiku. Tidak pada perjumpaan pertama. Biasanya mereka terlalu dikuasai rasa takut.
Devadatta melotot balik dengan sikap menantang, Kenapa kau ada disini? Aku kan tidak sekarat. Mara tidak menjawab. Ia mengangkat satu tangannya, ujung jubahnya ikut terangkat. Pinggiran jubah itu berwarna hitam. Sekilas Devadatta menatap jubah itu sebelum sekelilingnya menjadi hitam pekat. Awalnya jubah itu membentuk lingkaran kecil di sekeliling kepala Mara, kemudian melebar dan menutupi si bocah sampai seluruh pavilliun lenyap dan Devadatta mendapati dirinya berada dalam kegelapan total yang hangat dan menyesakkan. Ia menjerit nyaring dan TERJATUH ke dalam lubang besar yang menganga.
“Dimana aku ? jawab !” bentaknya.
“Oh, aku akan menjawab, kau tak perlu khawatir.”
Suara mara terdengar tepat disebelahnya. Devadatta mengulurkan tangan untuk memukuli — rasa marah dan rasa takutnya sama besar. Atau, lebih tepatnya, ia menghadapi rasa takut dengan mengubahnya menjadi amarah.
Ia bolak-balik meninju udara kosong. Mara kagum pada bocah itu. Jarang sekali seseorang yang begitu muda tidak takut menghadapi bahaya, meskipun itu kenekatan yang sia-sia. Mara butuh seseorang dengan beberapa sifat tertentu, gampang marah, nekat, tidak mampu mengira-ngira bahaya yang ia hadapi, licik tapi cukup BODOH sehingga mudah jatuh dalam perangkap kesombongan. Devadatta bisa dibilang memiliki semuanya.
Apa maumu ? seru Devadatta ke dalam kegelapan kosong di hadapannya. Mara bisa menjelaskan semuanya, tapi ia memilih mengamati dan menunggu. Kesombongan dan rasa nekat ada batasnya, jadi ia mengulur waktu — satu jam, lalu dua, kemudian enam — sampai ia mendengar gemelutuk gigi Devadatta. Sekarang.
“Kau ada disini untuk belajar,” kata Mara.
Suara yang memecah keheningan tersebut membuat Devadatta melonjak. Kali ini ia menguasai amarahnya, akalnya sudah mulai bekerja dan ia tahu dirinya berada dalam kekuasaan setan.
“Aku pangeran, aku bisa melakukan tawar-menawar denganmu,” kata Devadatta.
“Kau tidak mendengarkan, Kubilang kau ada disini untuk belajar. ”
“Belajar apa ?”. Diam!. “Aku mendengarkan.
”
Mara menangkap nada kalah dalam suara si bocah, bocah itu tak lagi bisa berpura-pura lebih berkuasa.
“Belajar menjadi raja ” kata Mara.
“Jangan konyol,” kata bocah itu marah. Aku akan menjadi raja. Siapa pun dirimu, aku tidak membutuhkanmu untuk itu.
“Konyol ! Anak bodoh, kau kehilangan kesempatanmu untuk jadi raja begitu kau meninggalkan di sana, tidak sekarang atau kapan pun.
“Pembohong”. Ledakan amarah tersebut membuat Mara memutuskan untuk menunggu lagi, jadi ia kembali menunggu beberapa jam sampai Devadatta makin terasa kedinginan dan kesepian. Lalu karena Mara tahu rasa syukur sama dengan rasa takut, maka ia menciptakan api unggun kecil muncul di gua. Devadatta bergegas mendekati api itu dan menghangatkan tubuhnya yang gemetaran.
Mara tertawa. “Kau tak punya apa-apa untuk diberikan. Pangeran tanpa singgasana sama saja dengan pangeran tanpa kekayaan. Kau pasti bodoh jika tidak mengingat hal itu. Terlalu bodoh untuk melakukan tawar-menawar. Aku pergi”.
Bocah itu terdengar sungguh-sungguh ketakutan. Mara bertepuk tangan lagi dan api unggun yang bergemeretak itu pun mati.
Setelah puas dengan perkenalan yang dibuat Mara, ia tinggalkan bocah itu didalam gua semalaman. Bocah itu pasti takut mati beku kedinginan, tapi Mara bisa tetap mempertahankan secercah kehidupan.
Butuh beberapa lama bagi Devadatta untuk bisa keluar dari gua itu. Saat benar-benar tak ada jalan keluar, barulah pikirannya berhenti berputar-putar dalam kepanikan, kemudian Devadatta memikirkan pertanyaan sederhana : Bisakah setan memindahkan seseorang secara fisik kemana saja ? Bagaimana jika gua itu hanya ilusi ? Saat ia memikirkan kemungkinan ini, dua hal terjadi. Ia mendengar gema samar suara Mara yang menertawakannya dengan terbahak-bahak, dan ia jatuh tertidur.
Bagaimana setan bisa menguasai pikiran dengan cara seperti ini, memanfaatkan orang-orang yang tak bersalah ? Yang membuat Devadatta menjadi korban teror di gua hanya hal kecil, ia mengidap klaustrofobia. Semasa bayi Devadatta hampir mati tercekik dalam kain tebal yang membungkusnya saat pengasuh yang lalai membiarkannya terbungkus seperti itu di bawah sinar matahari. Mara mengetahui kelemahan ini, dan yang perlu ia lakukan hanya menutupi bocah itu dengan jubahnya. Selanjutnya pikiran Devadatta yang akan melakukan semuanya. Pikirannya akan dipenuhi kenangan tentang kejadian saat ia tercekik dan mulai PANIK. Mudah saja bagi si setan untuk mengubah kepanikan yang tak beralasan menjadi mimpi buruk. Bocah itu tak bisa bangun dari mimpi buruknya, ia tetap berada dalam cengkeraman mimpi buruk itu selama Mara inginkan. Satu momen teror bisa diubah menjadi seminggu di gua menyeramkan. Dan Mara bisa melakukan hal yang sama pada siapa pun.
Wednesday, December 10, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment